Sigap88
Aceh Babel Bandar Lampung Banyuwangi Bondowoso Jakarta Jember Jombang Lampung Lumajang Malang Raya Muara enim Nasional Olahraga Opini Pangkal Pinang Papua Pasuruan Pendidikan Peristiwa Politik Pemerintahan Regional Sampang Situbondo Sosial Sumenep Surabaya Tapal Kuda Travel Trenggalek Tulang Bawang Uncategorized

Aktivis Perempuan :Kasus Prostitusi Online, Perempuan Selalu Menjadi Objek Pemberitaan Sepihak Oleh Media Massa

Malang, Sigap88- Polrestabes Medan menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan prostitusi online yang melibatkan artis FTV berinisial HH (23). Kasus prostitusi online menjerat artis bukan baru sekali ini terjadi. Kali ini transaksi terlarang itu menyeret artis FTV, kasus yang sama pernah melibatkan selebritas dan langsung viral ketika Polda Jatim menangkap VA dan AS.

Pemberitaan prostitusi online yang marak beredar selalu menjadikan perempuan (si artis) sebagai objek pemberitaan. Padahal prostitusi online bukan hanya tentang perempuan, prostitusi adalah problem sosial yang mana perempuan hanya menjadi salah satu komponen yang terseret dalam jaringan transaksi terlarang tersebut. Seharusnya berita dibingkai untuk mengungkap jaringan prostitusi online itu sendiri, bukan menyorot perempuan sebagai objek seksual.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana se Indonesia (HMPI) Dyah Arum Sari, S.S, M.Pd, C.ST MI mengatakan, “Menurut saya ini merupakan bentuk kekerasan sosial. Selain karena stigma yg mengakar di masyarakat yang menganggap perempuan menjadi aktor utama juga karena pemberitaan prostitusi online selalu seksi dan laris dikonsumsi, apalagi yang terlibat adalah selebritas. Pemberitaan dimana-mana beramai-ramai mengekspos foto si perempuan, menguliti kehidupan pribadinya, menyebutkan nama dan juga menyangkut pautkan keluarganya. Ini jelas sebuah kekerasan sosial yang seharusnya tidak boleh dilakukan”, tegasnya.

Dyah menilai pemberitaan yang beredar sangat dogmatis dan arbitrer terhadap si perempuan, sedangkan dalam kasus terbongkarnya jaringan prostitusi online si laki-laki kerap lolos dari sorotan.

Oleh karena itu, DPP HMPI memberikan pernyataan sikap atas kasus prostitusi online tersebut.

Yang pertama, meminta media untuk tidak mengeksploitasi perempuan yang dilacurkan dan menghentikan pemberitaan yang spektrumnya cenderung menyalahkan perempuan.

Yang kedua meminta pihak yang berwenang atau penegak hukum berhenti mengekspos secara komunal (terbuka) terkait penyelidikan prostitusi online yang dilakukan.

Yang ketiga meminta kepada masyarakat agar tidak menjustifikasi si perempuan secara sepihak melalui postingan dan komentar yang bernada perundungan terhadap si perempuan.

Di akhir statementnya, Dyah yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Perempuan dan anak Dewan Pimpinan Pusat Partai PERINDO ini, mengajak semua pihak lebih perseptif, intuitif dan lebih peka guna bersama-sama mencari akar persoalan agar problem prostitusi online ini tidak terus berkembang dan menyebabkan banyak korban.” Tegasnya,  saat di konfirmasi melalui via telepon 15/7/2020. (Red)

Related posts

Wapres Minta MUI Terbitkan Fatwa Penanganan Jenazah Korban Corona

Redpel1

Sidang Gugatan CLS Ditunda 4 September 2019

Redaksi

Gubernur Erzaldi Rosman Serius Mengedukasi Masyarakat Terkait Wabah Covid-19

Redaksi