Sigap88
Image default
Artikel Featured Nasional Pendidikan

SATU TAHUN SEKOLAH DI RUMAH

Jawa Timur¦¦Sigap88 – Mendekati satu tahun kebijakan pemerintah yang mengharuskan melakukan aktifitas belajar dari rumah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid 19 memberikan dampak yang cukup serius dalam dunia pendidikan.

Kebijakan ini membuat satuan pendidikan, baik formal maupun non formal mengambil langkah strategis dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sebagai pengganti kegiatan tatap muka, yaitu melalui pembelajaran dalam jaringan (DARING), semisal melalui google classroom, group whatsaap atau media lainnya dengan tujuan komunikasi dua arah dapat berjalan dengan maksimal.

Secara sederhana metode pembelajaran daring adalah guru menyiapkan konten materi pelajaran yang kemudian diunggah melalui media yang sudah disepakati antara pihak satuan pendidikan dalam hal ini guru dengan peserta didik atau wali murid.

Selanjutnya peserta didik mempelajari materi dan mengerjakan berbagai tugas yang ada dalam materi tersebut.

Akan tetapi dalam prakteknya pembelajaran daring tidak sesederhana itu. Walaupun banyak kelebihan dan kemudahan khususnya di tengah pandemi covid 19 saat ini, namun ternyata banyak di temukan berbagai kendala dan keterbatasan dalam proses pembelajaran.

Sayangnya kendala tersebut sulit untuk dilakukan monitoring, baik oleh guru itu sendiri sebagai ujung tombak satuan pendidikan maupun oleh pengawas atau penilik sebagai penjamin mutu pendidikan.

Sedikitnya ada tiga permasalahan dalam pross pembelajaran daring, yaitu;

  • Pertama, pembelajaran daring memerlukan kreatifitas dan kemampuan di atas rata-rata yang harus dimiliki oleh guru. Hal ini karena pembelajaran daring melibatkan media seperti komputer dan HP android. Belum lagi aplikasi yang digunakan juga memerlukan keahlian khusus sehingga bisa digunakan dengan baik dan efektif. Problemnya adalah tidak semua peserta didik memiliki alat komunikasi atau hand phone yang berbasis android, kalaupun ada, masih terdapat kendala kuota dan jaringan internet yang terbatas atau mungkin tidak ada. Pada akhirnya kondisi ini akan membebani orang tua untuk menyediakan kuota yang mahal justru di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan krisis pada saat ini.
  • Kedua, pembelajaran daring memerlukan kemampuan memahami teks dan konteks yang berbasis keluarga. Hal ini karena konten yang disampaikan guru memerlukan pihak lain untuk menterjemahkan materi tersebut yaitu orang tua, apalagi ketika terdapat materi yang memerlukan penjelasan sedikit lebih mendalam. Ini terjadi pada siswa yang berada di jenjang PAUD dan Sekolah Dasar, namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada siswa SMP dan SMA. Oleh karenanya, pesan yang tadinya bisa dipahami dengan mudah oleh guru belum tentu bisa diterima dengan baik oleh siswa. Pada kondisi seperti ini yang terjadi sebenarnya adalah orang tua berperan sebagai pendamping sekaligus guru di rumah yang harus memiliki kemampuan mentafsiri materi yang disampaikan oleh guru. Masalahnya adalah bagaimana apabila orang tua “lemah” atau bahkan tidak memiliki kemampuan secara keilmuan untuk menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru melalui media online tersebut.
  • Ketiga, sebagaimana layaknya, selain memerlukan kuota data internet yang cukup memadai, pembelajaran daring juga membutuhkan jaringan internet yang bagus dan stabil. Kondisi ini perlu di sadari oleh satuan pendidikan, bahwa tidak semua siswa (baca: orang tua) memiliki sarana yang di dukung dengan jaringan internet. Pada akhirnya pembelajaran daring tidak harus dipaksakan sebagai sebuah keharusan yang tidak memiliki alterntaif lain. Artinya perlu adanya model pembelajaran lain yang perlu disepakati sebagai solusi bersama belajar di rumah yang anti mainstream.

Pembelajaran daring akan bisa di atasi dengan adanya kerja sama yang baik antara pihak satuan pendidikan dan orang tua, tentunya berdasarkan kebijakan dari pemerintah sebagai pihak yang memiliki regulasi pendidikan khususnya di tengah pandemi covid 19 saat ini.

Beberapa alternatif solusi yang bisa digunakan adalah memberikan kebebasan belajar di rumah kepada siswa dengan merdeka belajar yaitu pembelajaran daring sebaiknya tidak membebani siswa tapi justru memberikan spirit belajar yang menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas tanpa di tuntut hasil yang maksimal dan diburu deadline pengumpulan tugas.

Beralihnya fungsi rumah sebagai sekolah menuntut orang tua memiliki kemampuan untuk memberikan pendampingan kepada anak. Untuk itu diperlukan kerja sama yang baik antara orang tua dengan guru agar proses belajar di rumah berjalan dengan baik. Proses ini akan berjalan dengan efektif apabila di dukung juga dengan kondisi paket data yang cukup. Untuk itu perlu adanya insentif kuota data internet yang di berikan khusus kepada guru dan siswa sebagai sarana dalam proses pembelajaran di rumah.

Penulis : agussah#kontributorsigap88

Related posts

Babinsa Koncer Kidul Hadiri Upacara Hari Santri Nasional Tahun 2019

Kapolri Terbitkan Izin Liga 1 dan Liga 2 Dengan Prokes Ketat

Redaksi dewan

Konferensi Pers Polda Jatim, Pengedar Pil Koplo Juga Terbukti Miliki Senpi