Sigap88
Malang Raya Peristiwa

Wiwitan: Tradisi Penghormatan Pada Dewi Sri Yang Hampir Punah

Oleh :
Satriya Nugraha,S.P.

Anggota Komisi Seni, Budaya dan Pariwisata DPD KNPI Jatim 2012-2017

Host Program Jalan-jalan Kuliner Bersama Cak Satriya Pagak TV

Blogger kompasiana.com/satriya1998

Dagang Beras Tanpa Pestisida, Beras Merah, Beras Hitam Organik

Wiwitan adalah suatu tradisi yg di lakukan para petani untuk memulai masa panen dan memulai menanam padi. Dalam tradisi ini merupakan persembahan dan rasa syukur kepada Ibu Bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri sebagai simbol Dewi kemakmuran dan kesuburan.

Wiwitan berasal dr kata.. ” Wiwit” yg berarti ” mulai” jadi dalam tradisi Jawa, hal ini merupakan upaya ritual memulai baik mulai menanam padi dan mulai memanen padi. Dalam tradisi Wiwitan berbagai macam sesaji / sajen di persiapkan yang berupa Nasi tumpeng, sayur kluwih, pelasan, tempe tahu goreng, urap, sambal goreng, serondeng, telur dadar, ikan asin, thontho, kacang gleyor santan, dan ayam ingkung yang dibungkus daun pisang atau daun jati.

Selain itu, ada persembahan cok bakal, kembang setaman dan air kendhi. Setelah semua ubo rampe tersedia lengkap maka diantar ke sawah dan dengan di pimpin oleh tokoh adat setempat, para petani berkumpul dan berdoa khusuk untuk memulai ritual wiwitan.

Tradisi Wiwitan pada dasarnya adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang mana sudah memberikan hasil panen melimpah ruah. Hal ini telah dilakukan oleh leluhur petani dalam menjaga komunikasi batin dengan Tuhan sejak jaman dahulu kala.

Tradisi wiwitan juga sebagai pengharapan di mulai masa tanam padi supaya padi yg di tanam tumbuh subur, produksi meningkat dan terlindungi dari berbagai macam hama shg selamat smp masa panen nanti.

Wiwitan kebanyakan dilakukan oleh para petani di pedesaan atau di pinggiran-pinggiran kota. Sebagian besar petani desa di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, masih melestarikan melalukan ritual wiwitan. Mengingat banyak dilakukan di pedesaan, bagi masyarakat yang ingin melihat dan ikut merasakan ritual wiwitan, lebih direkomendasikan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa.

Tradisi wiwitan hampir punah di masa kini karena sebagian petani berusia muda, kurang memaknai maksud dan tujuan tradisi wiwitan. Semoga tradisi warisan leluhur ini tetap bisa lestari seiring berjalannya waktu sehingga akan terwujud harmonisasi manusia dg Alam Semesta.

Hong Wilaheng Sekareng Bawana Langgeng…
Hayu Hayu Hayu Rahayu Nir Ing Sambekala…

Tlatah Purwantoro,
10 Januari 2020

Related posts

Dandim 0822 Bersama Kapolres Bondowoso Hadiri Safari Jum at Di Masjid Baitul Amin Maskuning Pujer

Efendi Tuba

Warga Keluhkan Pelayanan BPN Kab.Malang Buruk

Redaksi

Berikut Nama Nama Komisioner KPK Periode 2019-2023

Redaksi