Pembukaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) secara resmi dilakukan sebagai ajang penting dalam kegiatan penelitian yang bertujuan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian serta memperkuat kemandirian industri nasional.
Diadakan atas inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), forum ini mengumpulkan lebih dari seribu ilmuwan dari berbagai lembaga di seluruh negeri.
Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa konvensi ini dibuat untuk menghubungkan dunia penelitian dengan industri, serta menyusun peta jalan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan strategis negara.
“Kami berharap dapat menghubungkan para peneliti beserta karya-karya mereka dengan ketua atau elemen-elemen lainnya, baik pemerintah maupun dunia industri khususnya,” kata Brian di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Kamis (7/8/2025).
Brian menekankan bahwa hasil penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada tingkat pengetahuan saja, tetapi harus mampu memberikan kontribusi yang nyata terhadap ekonomi dan industri.
“Penelitian dan pengembangan yang dilakukan dapat memberikan kontribusi ekonomi, kontribusi pada industri, mendorong tumbuhnya sektor-sektor industri baru, serta berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai masalah di bidang industri,” ujar Brian.
Brian menyampaikan bahwa konvensi ini dihadiri oleh 1.066 peneliti terkemuka dari seluruh Indonesia, 401 rektor dan pimpinan universitas negeri maupun swasta, serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI).
Selain itu, hadir pula 351 dosen LLDIKTI, 200 diaspora, mahasiswa doktoral, profesor, senat universitas, serta perwakilan organisasi lainnya.
“Di sini kita akan melakukan beberapa hal karena telah berkumpul banyak ilmuwan terkemuka serta pengambil kebijakan. Kita akan menyusun peta jalan penelitian dan inovasi teknologi,” ujar Brian.
Selain itu, konvensi ini juga bertujuan memperkuat hubungan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan sektor industri, serta memperlihatkan hasil-hasil penelitian.
Lebih dari 400 produk penelitian dipamerkan dalam acara ini dan terkait langsung dengan sektor-sektor industri.
“Harapan kami adalah produk-produk ini dapat berkembang menjadi skala yang lebih luas, massal, sehingga benar-benar mendorong lahirnya industri-industri baru yang berbasis teknologi,” katanya.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto hadir dalam konvensi dan memberikan pidato utama. Brian menyampaikan bahwa dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan negara meskipun memiliki sumber daya alam yang melimpah.
“Untuk menjadikan potensi besar tersebut menjadi kesejahteraan bagi bangsa, Presiden menekankan perlunya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia yang unggul,” katanya.
“Harapan ke depan, berbagai produk tersebut adalah karya dari Indonesia, industri-industri dalam negeri, sehingga ketergantungan kita terhadap impor dan aliran kekayaan alam keluar negeri karena kita tidak mampu memproduksi sesuatu menjadi berkurang,” tambah Brian dalam pidato Presiden Prabowo yang ditutup untuk media.
Selain itu, Brian menyebutkan bahwa Presiden juga menyentuh pentingnya perkembangan industri kendaraan bermotor, elektronika, dan semikonduktor, serta pengelolaan kelapa sawit. Salah satu contoh nyata adalah hasil penelitian dari ITB yang berhasil memproses limbah kelapa sawit menjadi bensin.
“Bapak Presiden menyampaikan permohonan kepada para ilmuwan dan para peneliti, marilah kita bersama-sama bekerja sama menghasilkan karya-karya nyata yang diharapkan mampu mendorong perkembangan industri serta kesejahteraan bangsa Indonesia,” ujar Brian.
Di sisi lain, Mohammad Fauzan Adziman, yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan di Kemdiktisaintek, menambahkan bahwa konvensi ini juga mengundang sekitar 400 pembicara dari berbagai penjuru Indonesia yang akan berkumpul selama tiga hari ke depan.
Mereka akan menyusun peta jalan penelitian dalam berbagai bidang kunci, yang terdiri dari delapan sektor prioritas strategis nasional, yakni energi, pertahanan, digitalisasi (termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor), dekarbonisasi serta industrialisasi, kesehatan, pangan, maritim, serta bahan baku dan manufaktur canggih.
“Hasil dari peta jalan penelitian ini akan kita lakukan kerja sama tidak hanya dalam bidang pendidikan tinggi, tetapi juga dengan Kementerian Keuangan dan diintegrasikan oleh Kemenko Perekonomian, sehingga tercipta keterpaduan antara sains, teknologi, dan industri untuk mendukung perekonomian,” kata Fauzan.
Di sisi lain, Rektor Institut Teknologi Bandung, Tatacipta Dirgantara, mengatakan bahwa ITB merasa bangga diangkat sebagai penyelenggara Konvensi Sains Teknologi Industri Indonesia dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
“Banyak penelitian telah dilakukan, tetapi belum banyak yang dapat diubah menjadi industri yang berkelanjutan,” katanya.
Tatacipta juga menyebutkan bahwa dalam acara pembukaan, ITB mengadakan perjanjian kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan, Pertamina, dan PT Pindad untuk memperkenalkan hasil riset ITB, khususnya yang berkaitan dengan bensin sawit dan katalis, guna mendukung ketahanan energi nasional.
Selama pameran, berbagai hasil karya penelitian dari ITB serta perguruan tinggi lainnya juga ditampilkan, beberapa di antaranya telah siap untuk dikembangkan oleh industri.
“Saya rasa apa yang disampaikan oleh Pak Menteri dan Pak Presiden sesuai, dan tentu saja, jika kita memiliki sikap mendukung penggunaan produk dalam negeri, maka produk tersebut akan semakin lama semakin sempurna dan berkualitas,” ujar Tatacipta.
Konvensi ini tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan, tetapi juga menjadi wadah strategis dalam merancang masa depan Indonesia yang lebih mandiri dalam hal teknologi dan industri, berawal dari kekuatan penelitian yang ada di dalam negeri.