KELUARGA Ratna Busana (HRB) Surakarta, Jawa Tengah, mengusulkan pembangunan museum kebaya di Indonesia. Ide ini dilakukan sebagai upaya pelestariankebayasebagai salah satu warisan budaya dari negeri sendiri.
Wakil Ketua Himpunan Ratna BusanaSurakarta juga merupakan salah satu dari 12 tim nasional yang mengusulkan Hari Kebaya Nasional, Raden Ayu Febri Hapsari Dipokusumo menyampaikan bahwa saat ini pembangunan museum kebaya menjadi tugas yang diharapkan dapat terwujud. Mengingat hal ini merupakan bagian dari upaya melestarikan kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.
“Kami menilai bahwa kebaya merupakan salah satu warisan dari Indonesia yang berkembang di sini. Negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura juga telah memiliki kebaya,” ujar Febri kepadaTempo, Selasa 5 Agustus 2025.
Museum Kebaya di Keraton
Febri mengakui bahwa saat ini Indonesia memilikilife museum, yaitu keraton. Ia memberikan contoh dalam setiap pelaksanaan upacara adat, keraton selalu memakai pakaian tradisional khususnya kebaya. “Kita memiliki life museum, dalam arti keraton setiap upacara masih menggunakan kebaya. Seperti pakaian sehari-hari kita di keraton adalah kebaya. Hanya saja pada saat itu tidak dianggap sebagai museum atau dituliskan dalam literatur, masyarakat tidak mengetahuinya,” katanya.
Museum kebaya, menurutnya, akan memiliki peran penting dalam melestarikan berbagai literasi terkait kebaya serta memperkenalkannya kepada generasi muda. “Khawatirnya di kalangan generasi berikutnya, kebaya semakin lama semakin langka. Di Malaysia dan Singapura saat ini sudah memiliki museum kebaya. Idealnya Indonesia juga seharusnya memiliki yang seperti itu, tetapi kita belum punya. Oleh karena itu, ini menjadi PR juga,” katanya.
Acara Sore Berkebaya
Di sisi lain, pada kesempatanHari Kebaya Nasionalyang dirayakan pada 24 Juli lalu, HRBSurakartatelah menyelenggarakan rangkaian kegiatan dengan tema Sore Berkebaya dan Pasar Seni UMKM. Acara diadakan di Solo pada hari Sabtu, 26 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dihelat sejak ditetapkannya Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023.
Menurut Febri, perayaan ini bukan hanya wujud penghormatan terhadap warisan budaya, tetapi juga langkah nyata untuk membangkitkan perekonomian pelaku UMKM perempuan. “Kami berharap Hari Kebaya Nasional tidak hanya bersifat formal. Kami ingin ekonomi juga turut berkembang. Ada sekitar 15 hingga 20 UMKM yang hadir, menjual produk-produk kreatif seperti kebaya, tas tenun, parfum, dan aksesoris khas wanita,” ujarnya.
Pada sesi edukasi yang berlangsung di sore hari, Febri juga memperkenalkan berbagai model kebaya kepada para pengunjung, mulai dari kebaya Kartini, kutubaru, encim, hingga kebaya janggan yang kini populer melalui serial tertentuGadis KretekKebaya labuh dari Pekanbaru dan kebaya noni dari Sulawesi Utara juga ditampilkan sebagai lambang keragaman budaya Nusantara.
Febri menekankan bahwa kebaya memiliki makna penting sebagai simbol identitas perempuan Indonesia, sebagaimana sari di India, hanbok di Korea, dan kimono di Jepang.
“Jika kita melihat perempuan India, kita tahu dia mengenakan sari. Perempuan Jepang dengan kimono. Namun perempuan Indonesia? Kita berharap kebaya menjadi jawabannya,” ujar Febri.
Kurang Literatur Kebaya
Ia juga menyampaikan kekhawatiran mengenai minimnya literatur terkait kebaya yang menjadi hambatan dalam proses pengajuan pengakuan UNESCO. Saat ini, kebaya sedang diajukan bersama negara-negara ASEAN sebagai usulan multinasional.
Melalui HRB dan komunitas kebaya lainnya, Febri berharap semakin banyak perempuan Indonesia kembali menghargai kebaya sebagai pakaian sehari-hari, termasuk bagi kalangan muda. “Mengenakan kebaya bukan hanya tentang pakaian, tetapi juga bagaimana kita bersikap. Ini membentuk sikap, sopan santun, serta rasa percaya diri terhadap budaya sendiri,” katanya.
Baca Juga: Kebaya: Pakaian Tradisional yang Tidak Pernah Hilang PopulerannyaBaca Juga: Baju Kebaya Lama Favorit Christine HakimBaca Juga: Membawa Kebaya Labuh dan Kerancang ke UNESCO