Penelitian AWS: Adopsi AI Tumbuh Kuat di Indonesia, Startup Ungguli Perusahaan Besar

Amazon Web Services (AWS), perusahaan milik Amazon.com, hari ini mengumumkan sebuah laporan terbaru yang menunjukkan bahwa meskipun pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat di Indonesia, terdapat perbedaan yang makin lebar antara startup dan perusahaan besar dalam hal tingkat penerapan AI.

Kesenjangan ini antara perusahaan besar dan startup yang lebih gesit berpotensi menghasilkan ekonomi dua kelas, di mana startup berbasis teknologi berkembang lebih cepat dan melebihi pesaingnya yang lebih mapan.

Penggunaan Kecerdasan Buatan Mengalami Peningkatan yang Cepat

Di Indonesia, sebanyak 5,9 juta perusahaan menerapkan solusi kecerdasan buatan pada tahun 2024 – setara dengan lebih dari sepuluh perusahaan per menit secara rata-rata. Totalnya mencapai 18 juta, atau 28% dari seluruh bisnis di Indonesia yang telah mengadopsi AI, menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 47%.

Potensi produktivitas dan ekonomi yang dihasilkan dari penerapan AI sangat menggiurkan. Sebanyak 59% perusahaan yang telah menggunakan AI melaporkan kenaikan pendapatan rata-rata sebesar 16%, sementara 64% berharap bisa menghemat biaya rata-rata hingga 29%.

Untuk memperluas pemahaman tentang cakupan AI dan arah perusahaan dari berbagai ukuran, AWS bekerja sama dengan Strand Partners dalam melakukan survei penggunaan AI di Indonesia.

Laporan “Unlocking Indonesia’s AI Potential” mengumpulkan data dari 1.000 pemimpin perusahaan dan 1.000 warga biasa yang mewakili seluruh penduduk Indonesia.

Adopsi Teknologi AI yang Semakin Luas Tapi Masih Dasar di Kalangan Perusahaan Indonesia

Meskipun penggunaan AI semakin meningkat di Indonesia, sebagian besar perusahaan masih belum memanfaatkannya secara maksimal, menunjukkan pentingnya penguasaan adopsi AI agar potensi AI dapat dimanfaatkan secara penuh di Indonesia.

Sebanyak 76% perusahaan di Indonesia masih memfokuskan penggunaan teknologi pada penerapan dasar, seperti meningkatkan efisiensi dan mempermudah proses dengan memanfaatkan AI – bukan pada inovasi dalam menciptakan produk baru atau mengubah struktur industri.

Hanya 11% dari perusahaan yang menerapkan AI telah mencapai tingkat menengah, dan hanya 10% yang sampai pada tahap integrasi AI yang paling inovatif, di mana AI bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi bagian penting dalam pengembangan produk, pengambilan keputusan, dan model bisnis.

Startup, khususnya, sangat antusias dan kreatif dalam menerapkan AI di Indonesia, mengadopsi penggunaan AI yang paling canggih jauh lebih cepat dibanding perusahaan-perusahaan yang lebih besar dan mapan.

Sebanyak 52% perusahaan startup di Indonesia memanfaatkan AI dalam berbagai bentuk, sementara 34% dari mereka mengembangkan produk baru yang sepenuhnya didasarkan pada AI, menggunakan teknologi ini secara penuh.

Di sisi lain, 41% perusahaan besar memanfaatkan AI, tetapi hanya 21% di antaranya yang meluncurkan produk atau layanan baru berbasis AI, serta hanya 22% yang memiliki rencana AI yang menyeluruh. Celah dalam inovasi AI ini menunjukkan temuan yang lebih mendalam yang berpotensi membentuk arah ekonomi Indonesia di masa depan.

“Ini adalah fenomena menarik yang kami temukan dari hasil penelitian tentang penerapan AI di Indonesia. Meskipun 28% perusahaan melaporkan telah menerapkan AI, sebagian besar penerapannya masih sederhana meskipun terjadi pertumbuhan cepat dalam penggunaan teknologi selama setahun terakhir,” kata Nick Bonstow, Direktur di Strand Partners.

Perusahaan besar juga bisa ketinggalan oleh startup yang lebih fleksibel dan bergerak lebih cepat. Ekonomi dengan dua tingkat yang tercipta dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Hanya memuji angka adopsi AI saja bisa menyembunyikan tantangan yang lebih mendalam yang dihadapi banyak perusahaan di seluruh Indonesia.

Kesenjangan Keterampilan AI Menjadi Penghalang Utama dalam Peningkatan Penerapan AI

Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keterampilan memadai menjadi alasan utama yang diungkapkan oleh 57% perusahaan di Indonesia dalam menghambat penggunaan atau penerapan AI mereka.

Banyak perusahaan menyatakan bahwa mereka sudah memiliki teknologi dan visi, tetapi masih kesulitan menemukan individu yang mampu merealisasikannya. Hal ini mengancam daya saing Indonesia di tingkat global serta membatasi potensi ekonominya, karena literasi AI diperkirakan akan menjadi keharusan dalam 48% pekerjaan di masa depan, sementara hanya 21% perusahaan merasa tenaga kerja mereka saat ini telah siap.

Pembiayaan juga merupakan faktor yang sangat penting, khususnya bagi perusahaan rintisan di Indonesia, di mana 41% mengatakan bahwa akses terhadap modal ventura sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan.

Dalam menghadapi regulasi AI yang mungkin muncul, harapan utama dari pelaku bisnis di Indonesia adalah agar aturan tersebut mampu meningkatkan kepercayaan konsumen (51%) dan membentuk lingkungan regulasi yang tetap stabil (47%).

Perusahaan di Indonesia juga memperkirakan bahwa mereka menyisihkan 25% dari anggaran untuk biaya terkait kepatuhan, dan 62% mengharapkan angka ini akan naik dalam tiga tahun mendatang.

Tujuan Strategis dalam Inovasi Kecerdasan Buatan

Laporan ini menemukan tiga langkah utama untuk mengatasi hambatan tersebut dan memaksimalkan potensi AI di seluruh startup serta perusahaan besar agar tidak terjadi sistem ekonomi yang terbagi dua.

Pertama, lakukan investasi dan pengembangan program pelatihan keterampilan digital yang berbasis industri guna menghasilkan tenaga kerja terampil yang mampu mendorong inovasi dan pertumbuhan yang didasarkan pada kecerdasan buatan.

Kedua, menentukan kerangka regulasi yang mendukung pertumbuhan, jelas, dapat diprediksi, dan mendukung inovasi di Indonesia, guna mendorong peningkatan penerapan AI di berbagai sektor bisnis. Ketiga, mengingat 65% perusahaan menyatakan mereka lebih cenderung menggunakan AI jika didorong oleh pemerintah, maka transformasi digital di sektor pemerintahan, khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan, perlu dipercepat untuk mendorong perkembangan inovasi.

Pada tahun 2021, AWS menghadirkan Wilayah Asia Pasifik (Jakarta), dengan alokasi dana sebesar US$5 miliar untuk Indonesia.

AWS memprediksi bahwa investasi ini akan menghasilkan 24.700 kesempatan kerja setiap tahun dan berkontribusi sebesar US$10,9 miliar terhadap PDB Indonesia antara tahun 2021 hingga 2036.

AWS juga berkomitmen mengurangi ketimpangan keterampilan di Indonesia.

Sampai saat ini, AWS telah memberikan pelatihan kepada satu juta penduduk Indonesia dalam keterampilan cloud sejak tahun 2017 melalui inisiatif seperti AWS Skill Builder, AWS Educate, dan AWS re/Start.

Kami juga melaksanakan program keterampilan lokal seperti Terampil di Awan, yang memberikan pelatihan tentang teknologi Cloud dan Gen AI kepada siswa sekolah menengah, pelajar vokasi, orang dengan disabilitas, pengusaha UMKM, serta masyarakat yang kurang mampu.

Meningkatnya kekhawatiran mengenai ekonomi AI dengan dua tingkatan, semakin diperlukan upaya untuk memberikan keterampilan yang sesuai secara luas kepada tenaga kerja agar organisasi dapat berinovasi dan berkembang di masa depan yang didorong oleh AI.

Program ini dibuat untuk membantu individu, termasuk pelajar, pencari kerja pemula, atau mereka yang baru mengenal teknologi awan, dalam memperkuat keterampilan yang diperlukan untuk bekerja dan mengejar kesempatan di era ekonomi digital. AWS juga bekerja sama dengan organisasi setempat guna mempertemukan peserta pelatihan dengan peluang pekerjaan.

“Para pelaku bisnis di Indonesia sangat antusias dalam berinovasi menggunakan AI, dan tingginya tingkat penerapan menunjukkan potensi besar bagi perekonomian Indonesia. Namun, penelitian ini juga menemukan kendala yang signifikan, khususnya bagi perusahaan besar, dalam memperdalam pemanfaatan AI,” kata Anthony Amni, Country Manager, AWS Indonesia.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitif Indonesia dalam dunia AI global, penting bagi pemerintah dan sektor industri untuk mengambil tindakan yang tepat dalam menghadapi tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis. Di AWS, kami tetap berkomitmen mendukung penerapan luas AI generatif melalui investasi pada infrastruktur serta program pelatihan keterampilan kami.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *